banner

When Blonde Girl Can Be Deadly – Review of “Atomic Blonde”

Written by
mm

Kalau kita perhatikan dari dulu image perempuan blonde di perfilman Hollywood adalah perempuan bodoh dan hanya memperhatikan penampilan saja. Tapi, berkat film “Legally Blonde” (2001), penampilan perempuan blonde ditepis tidak hanya pintar dandan saja, tapi juga pintar dalam ilmu hukum. Nah, di tahun 2017 ini, saatnya perempuan berambut blonde tidak hanya cantik, tapi bisa menjadi icon heroine yang bisa membasmi kejahatan. Lewat film “Atomic Blonde“, Charlize Theron dipasang menjadi bintang utama sebagai perempuan tangguh yang juga memproduseri film yang diangkat dari graphic novelThe Coldest City” karya Anthony Johnston & Sam Hart yang pernah diterbitkan tahun 2012. “Atomic Blonde” juga disutradarai oleh David Leitch, ini merupakan debut-nya yang sebelumnya memproduseri film “John Wick” (2014). Walaupun, Leitch juga andil menyutradarai film “John Wick” tapi namanya tidak ditulis.

Ber-setting di tahun 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang agen MI6, dikirim ke Berlin pada masa Perang Dingin untuk menyelidiki pembunuhan rekannya dan mengambil daftar yang hilang berisi nama-nama agen ganda yang disebut The List. Dia bekerjasama dengan David Percival (James McAvoy), kepala pusat pengendali, untuk membantunya melalui permainan espionase penuh bahaya mematikan. Tapi, misi ini bukan misi yang mudah dilakukan sebelumnya. Broughton mencurigai adanya sesuatu yang janggal. Ketika dia bertemu dengan Delphine Lasalle (Sofia Boutella), seorang agen dari Perancis yang menyamar, Broughton menemukan fakta yang membahayakan dirinya. Pada akhirnya, tidak terduga siapa yang harusnya menyerang siapa di dalam permainan espionasi ini.

Okay, here’s the review. Mungkin cerita tentang spionase sudah sering kita saksikan di bioskop. Misinya pun sudah jelas, membekuk organisasi kejahatan dengan penjahat yang berbahaya. Apakah “Atomic Blonde” sama dengan film bertema spionase lainnya? Jawabannya TIDAK. Yes, alur cerita mungkin memang sedikit mirip “John Wick”, tapi bukan berarti menjiplak. Lewat “Atomic Blonde“, cerita mengalir dengan sangat teratur. Kelebihan adegan action di film ini pun berbeda dengan film lainnya, banyak permainan tembak-tembakan yang mungkin nonsense, tapi banyak baku hantam menggunakan tangan kosong. Ending yang bisa ditebak? Tentu saja tidak, bahkan menjelang ending kita akan berpikir bahwa film sudah selesai. Nyatanya, ada twist yang membuat semua penonton akan tertipu. Penampilan sempurna dari Charlize Theron dengan logat british-nya, bahkan ketika melakukan adegan aksi. Ditambah dengan penampilan bintang-bintang lainnya yang nyaris sempurna seperti Sofia Boutella, John Goodman, bahkan Bill Skarsgard yang bisa mencuri perhatian ketika kamu menonton filmnya.

Kalau kita perhatikan dari dulu image perempuan blonde di perfilman Hollywood adalah perempuan bodoh dan hanya memperhatikan penampilan saja. Tapi, berkat film "Legally Blonde" (2001), penampilan perempuan blonde ditepis tidak hanya pintar dandan saja, tapi juga pintar dalam ilmu hukum. Nah, di tahun 2017 ini, saatnya perempuan berambut blonde tidak hanya cantik, tapi bisa menjadi icon heroine yang bisa membasmi kejahatan. Lewat film "Atomic Blonde", Charlize Theron dipasang menjadi bintang utama sebagai perempuan tangguh yang juga memproduseri film yang diangkat dari graphic novel "The Coldest City" karya Anthony Johnston & Sam Hart yang pernah diterbitkan tahun 2012. "Atomic Blonde" juga disutradarai oleh David Leitch, ini merupakan debut-nya yang sebelumnya memproduseri film "John Wick" (2014). Walaupun, Leitch juga andil menyutradarai film "John Wick" tapi namanya tidak ditulis. Ber-setting di tahun 1989, Lorraine Broughton (Charlize Theron), seorang agen MI6, dikirim ke Berlin pada masa Perang Dingin untuk menyelidiki pembunuhan rekannya dan mengambil daftar yang hilang berisi nama-nama agen ganda yang disebut The List. Dia bekerjasama dengan David Percival (James McAvoy), kepala pusat pengendali, untuk membantunya melalui permainan espionase penuh bahaya mematikan. Tapi, misi ini bukan misi yang mudah dilakukan sebelumnya. Broughton mencurigai adanya sesuatu yang janggal. Ketika dia bertemu dengan Delphine Lasalle (Sofia Boutella), seorang agen dari Perancis yang menyamar, Broughton menemukan fakta yang membahayakan dirinya. Pada akhirnya, tidak terduga siapa yang harusnya menyerang siapa di dalam permainan espionasi ini. Okay, here's the review. Mungkin cerita tentang spionase sudah sering kita saksikan di bioskop. Misinya pun sudah jelas, membekuk organisasi kejahatan dengan penjahat yang berbahaya. Apakah "Atomic Blonde" sama dengan film bertema spionase lainnya? Jawabannya TIDAK. Yes, alur cerita mungkin memang sedikit mirip "John Wick", tapi bukan berarti menjiplak. Lewat "Atomic Blonde", cerita mengalir dengan sangat teratur. Kelebihan adegan action di film ini pun berbeda dengan film lainnya, banyak permainan tembak-tembakan yang mungkin nonsense, tapi banyak baku hantam menggunakan tangan kosong. Ending yang bisa ditebak? Tentu saja tidak, bahkan menjelang ending kita akan berpikir bahwa film sudah selesai. Nyatanya, ada twist yang membuat semua penonton akan tertipu. Penampilan sempurna dari Charlize Theron dengan logat british-nya, bahkan ketika melakukan adegan aksi. Ditambah dengan penampilan bintang-bintang lainnya yang nyaris sempurna seperti Sofia Boutella, John Goodman, bahkan Bill Skarsgard yang bisa mencuri perhatian ketika kamu menonton filmnya.

Overview

Story
Cast
Productions

Must Watch!

Salah satu film bertema spionase-action yang wajib kamu saksikan. Charlize Theron membuktikan, dia bisa menjadi female version dari agen 007. Jangan lupakan soundtrack lagu-lagu akhir 1980-an yang sangat mendukung jalan cerita film ini.

User Rating: Be the first one !
86
Article Categories:
Review International

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *