banner

The Fox Exploits The Tiger’s Might : Tebuka, Jujur dan Dewasa.

Written by
mm

Pada tanggal 20 April 2015, panitia Critic’s Week (Semaine De La Critique, Cannes Film Festival 2015) secara resmi mengumumkan bahwa salahsatu film pendek Indonesia yaitu “The Fox Esploits The Tiger’s Might”, karya sutradara Lucky Kuswandi telah berhasil masuk seleksi untuk berkompetisi di salahsatu ajang film bergengsi di dunia. Tahun ini panitia menerima 1759 karya film pendek dan 1100 film feature (film panjang) dari seluruh dunia terpilih tujuh belas film untuk maju berkompetisi di ajang ini. Tahun ini tercatat tujuh film panjangdan sepuluh film pendek yang akan berkompetisi dalam Critic’s Week. Kompetisi Critic’s Week sendiri didirikan pada tahun 1962, beranggotakan jurnalis dan kritikus film yang tergabung dalam serikat kritikus film Prancis (French Union of The Film Critics), yang memiliki fokus untuk mencari sutradara-sutradara baru yang inovatif. Tahun ini, presiden juri diketuai oleh Ronit Elkabetz, seorang aktris dan sutradara asal Israel. Film karyanya yang berjudul “Gett, The Trial of Viviane Amsalem” adalah nominator Golden Globes 2015 untuk kategori Best Foreign Language Film.

Babibutafilm bekerjasama dengan Hivos Asia Hub dan yayasan Cipta Citra Indonesia memproduksi tiga film pendek baru selama 2014 : “The Fox Esploits The Tiger’s Might” (sutradara Lucky Kuswandi), “Kisah Cinta Yang Asu” (sutradara dan ditulis oleh Yosep Anggi Noen) dan “Sendiri Diana Sendiri” (sutradara dan ditulis oleh Kamila Andini). Ketiga film ini diproduseri oleh Meiske taurisia, Edwin dan Tunggal Pawestri. Sebuah kolaborasi yang dibangun sebagai undangan untuk program “Mengalami Kemanusiaan:, sebuah ajakan yang memperkaya pengalaman kita akan kemanusiaan dan mengingat terus apa rasanya menjadi manusia, terutama ketika banyak hal yang menjauhkan kita dari masalah tersebut. Sala satu istilaj SARA; Suku, Agama, Ras dan Antar golongan, yang membatasi prespektif masyarakat tentang kemajemukan manusia, tanpa kita sadari, SARA sedang atau telah mengalami pemutakhiran menjadi SARA(S), “S” untuk Seksualitas. Manusia dibuat terlihat makin generik dan makin beragam.

Film Pendek ini menjadi filmpendek pertama Indonesia yang berhasil masuk dalam kompetisi ini. Sebelumnya film “Tjoet Nja’ Dhien” sutradara Eros Djarot, berhasilmasuk kedalam kompetisi film panjang. Sebuah pencapaian yang membanggakan ditengah minimnya dukungan pemerintah maupun swasta bagi pekerja kreatif yang berdedikasi sepenuhnya kepada kemajuan perfilman Indonesia.

“The Fox memberikan saya keleluasaan dalam membicarakan tema kekuasaan dan seksualitas secara terbuka, jujur dan dewasa. Keleluasaan tanpa penyensoran diri maupun penyensoran dari berbagai lembaga dalam eksplorasi karya seni ini ternyata malah membuahkan prestasi yang bisa dibanggakan oleh dunia Internasional” – Lucky Kuswandi. “The Fox Exploits the Tiger’s Might” bercerita tentang dua anak laki-laki pra-remaja yang sedang bergulat dengan seksualitas mereka, serta hubungan antara seks dan kekuasaan, di sebuah kota kecil yang sunyi tempat bercokolnya basis militer. David adalah anak jendral yang sombong dan suka memamerkan kekayaan ayahnya, sementara Aseng datang dari keluarga etnis minoritas pedagang tembakau yang menjual minuman keras selundupan.

Pemutaran di Institut Prancis di Indonesia (IFI), Kamis 23 April 2015 adalah sebuah bentuk dukungan dari kedutaan Prancis. Sebelumnya pemutaran di Goethe Haus dan Kineforum Jakarta.

Article Categories:
Review Indonesia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *