banner

Sebuah Penghormatan Terbaik Dari Andy Serkis – Review “Breathe”

Written by
mm

Breathe adalah debut penyutradaraan salah satu aktor kondang dunia yaitu Andy Serkis (“War for the Planet of the Apes“, “Black Panther“) yang masuk di ajang Toronto International Film Festival 2017. Serkis mengangkat sebuah kisah nyata inspiratif yang berlatar di Inggris tahun 1960-an. Membawa aktor Andrew Garfield yang berperan sebagai Robin Cavendish, seorang survivor polio yang menjadi fenomena karena berhasil bertahan hidup di luar rumah sakit untuk jangka waktu yang lama.

Bercerita tentang Robin dan pasangannya yaitu Diana Cavendish (Claire Foy). Setelah mereka menikah, pasangan Cavendish ini tinggal di Kenya. Suatu hari, Robin tiba-tiba tumbang dan itu menuntunnya kepada vonis mematikan. Dia terkena polio lewat udara, dan hidupnya mungkin tinggal hitungan bulan. Kondisi Robin sangat menyedihkan. Badannya lumpuh dari leher ke bawah. Bahkan hidupnya bergantung kepada alat bantu pernafasan. Kembali ke Inggris, Diana membantu Robin untuk bertahan hidup dengan cara apapun, salah satunya dengan melarikan diri dari rumah sakit. Ide yang sangat berisiko karena pada masa itu, belum pernah ada pasien polio yang selamat jika dirawat di rumah. Bagaimana perjuangan Robin dan Diana untuk mematahkan stigma tersebut akan kita lihat hingga filmnya usai.

Okay here’s the review. Jarang-jarang melihat film yang sangat hidup berkat sentuhan produser di luar hal yang berbau finansial. Walau disutradarai Andy Serkis, “Breathe” ternyata merupakan bentuk penghormatan dari Jonathan Cavendish yang merupakan anak semata wayang dari Robin dan Diana. Jonathan membuat film ini untuk ibunya yang telah berjuang dan juga sebagai ucapan terima kasih pada ayahnya yang memilih untuk hidup. Meski bergenre drama dan beralur lambat, “Breathe” menghembuskan nafas berupa semangat di dalam kisahnya. Aspek ini semakin didukung berkat kepiawaian Andrew Garfield dan Claire Foy. Mereka berhasil menampilkan chemistry yang luar biasa bagus.  Cobaan terberat bagi penonton adalah di 20 menit awal. Di sini film menceritakan masa-masa awal hubungan Robin dan Diana. Keputusan untuk lebih menampilkan next stage dari pernikahan mereka membuat babak pertama ini begitu hambar. Kita tidak dapat menginvestasikan diri ke dalam hubungan Robin dan Diana. Selain itu, Andy seperti membuat konten Instagram di mana film hanya diisi oleh banyak gambar pemandangan cantik dan properti klasik yang eye-catching. Editing-nya juga perlu dipertanyakan karena beberapa momen muncul begitu cepat sehingga  kurang efektif. Bayangan ketakutan akan menonton sebuah film drama yang membosankan betul-betul nampak di masa ini. Kamu harus bisa melewatinya sehingga esensi film bisa didapat, which is baru ada di babak berikutnya.

Ditulis oleh Adam Sarga

Breathe adalah debut penyutradaraan salah satu aktor kondang dunia yaitu Andy Serkis ("War for the Planet of the Apes", "Black Panther") yang masuk di ajang Toronto International Film Festival 2017. Serkis mengangkat sebuah kisah nyata inspiratif yang berlatar di Inggris tahun 1960-an. Membawa aktor Andrew Garfield yang berperan sebagai Robin Cavendish, seorang survivor polio yang menjadi fenomena karena berhasil bertahan hidup di luar rumah sakit untuk jangka waktu yang lama. Bercerita tentang Robin dan pasangannya yaitu Diana Cavendish (Claire Foy). Setelah mereka menikah, pasangan Cavendish ini tinggal di Kenya. Suatu hari, Robin tiba-tiba tumbang dan itu menuntunnya kepada vonis mematikan. Dia terkena polio lewat udara, dan hidupnya mungkin tinggal hitungan bulan. Kondisi Robin sangat menyedihkan. Badannya lumpuh dari leher ke bawah. Bahkan hidupnya bergantung kepada alat bantu pernafasan. Kembali ke Inggris, Diana membantu Robin untuk bertahan hidup dengan cara apapun, salah satunya dengan melarikan diri dari rumah sakit. Ide yang sangat berisiko karena pada masa itu, belum pernah ada pasien polio yang selamat jika dirawat di rumah. Bagaimana perjuangan Robin dan Diana untuk mematahkan stigma tersebut akan kita lihat hingga filmnya usai. Okay here's the review. Jarang-jarang melihat film yang sangat hidup berkat sentuhan produser di luar hal yang berbau finansial. Walau disutradarai Andy Serkis, "Breathe" ternyata merupakan bentuk penghormatan dari Jonathan Cavendish yang merupakan anak semata wayang dari Robin dan Diana. Jonathan membuat film ini untuk ibunya yang telah berjuang dan juga sebagai ucapan terima kasih pada ayahnya yang memilih untuk hidup. Meski bergenre drama dan beralur lambat, "Breathe" menghembuskan nafas berupa semangat di dalam kisahnya. Aspek ini semakin didukung berkat kepiawaian Andrew Garfield dan Claire Foy. Mereka berhasil menampilkan chemistry yang luar biasa bagus.  Cobaan terberat bagi penonton adalah di 20 menit awal. Di sini film menceritakan masa-masa awal hubungan Robin dan Diana. Keputusan untuk lebih menampilkan next stage dari pernikahan mereka membuat babak pertama ini begitu hambar. Kita tidak dapat menginvestasikan diri ke dalam hubungan Robin dan Diana. Selain itu, Andy seperti membuat konten Instagram di mana film hanya diisi oleh banyak gambar pemandangan cantik dan properti klasik yang eye-catching. Editing-nya juga perlu dipertanyakan karena beberapa momen muncul begitu cepat sehingga  kurang efektif. Bayangan ketakutan akan menonton sebuah film drama yang membosankan betul-betul nampak di masa ini. Kamu harus bisa melewatinya sehingga esensi film bisa didapat, which is baru ada di babak berikutnya. Ditulis oleh Adam Sarga

Overview

Story
Cast
Productions

Must Watch!

Sebuah film yang menginspirasi, menyorot kemudian memunculkan dengan tepat masalah yang dihadapi seorang Robin Cavendish. Ini lebih dari sekedar betapa bahayanya penyakit polio itu. Lebih dari sekedar betapa menakjubkannya kisah cinta dua karakter utamanya

User Rating: Be the first one !
81
Article Tags:
· · · ·
Article Categories:
Review · Review International

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *