banner

Satu Setting Yang Mengganggu Pikiran. Review of “The Wall”

Written by
mm

Doug Liman adalah sutradara yang selalu menampilkan film-film aksi yang menegangkan. Contohnya ketika sineas ini menmbuat film adaptasi novel “The Bourne Identity” (2002) yang memasang Matt Damon sebagai pemeran utama. Menampilkan film aksi dan spionase yang menegangkan dan bermain dengan pikiran ketika menontonnya. Dan sukses menuai pujian positif dengan perolehan box office yang bagus. Lalu film aksi yang dibumbui sedikit komedi dan drama juga lewat “Mr. & Mrs. Smith” (2005) memasang Brad Pitt dan Angelina Jolie, walaupun kritikus kurang menyukainya, tetap saja film ini menjadi salah satu favorit pecinta film aksi. Lalu di 2014 dia menytradarai film “Live Die Reeat: Edge Of Tomorrow” yang diadaptasi dari light manga Jepang berjudul “All You Need Is Kill“, memasang Tom Cruise dan Emily Blunt sebagai pemeran utama, menggabungkan aksi Hollywood bergaya Jepang yang luar biasa seru dengan 91% Certified Fresh dari situs Rotten Tomatoes. Tahun ini, Doug Liman kembali menyutradarai film aksi berlatar belakang perang tapi, mengganggu pikiran yang menjadi salah satu film yang tidak bisa dilewatkan berjudul “The Wall“. Yang istimewanya, film ini hanya memasang dua pemain utama dan satu pemain pendukung saja. Pastinya tidak akan bisa dilewatkan begitu saja.

Berlatar perang di Irak di tahun 2007, tentara Amerika bernama Shane Matthews (John Cena) yang ahli sebagai penembak jitu dikirim ke sebuah medan yang terasing dan ditemani oleh pengamatnya yang juga tentara, Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson). Selama 22 Jam lamanya mereka menunggu dan merasa aman, Shane memutuskan untuk memeriksa ke medan itu. Tiba-tiba, dia ditembak dan Allen harus menolongnya lalu tertembak di kakinya. Masalahnya, mereka harus mencari tahu siapa penembaknya yang tidak terdeteksi dari awal. Dan satu-satunya pelindung mereka hanyalah sabuah tembok kecil yang hampir runtuh. mereka harus mencari pertolongan sebelum terlambat.

Okay, here’s the review. Film berdurasi 81 menit ini ternyata cukup menagangkan. Dua tentara yang bertahan hidup ditembak oleh penembak misterius membuat kita akan bertanya-tanya siapa sebenarnya penembak itu. Selain menampilkan aksi baku tembak, film ini sukses membuat kita terganggu pikirannya kaarena terbawa suasana stress di dalam filmnya. That’s a good point. Bahkan kita akan miris melihat adegan berdarah-darah yang efektif. john Cena dan Aaron Taylor-Johnson berhasil membawa peran mereka dengan baik, chemistry mereka berhasil sebagai dua tentara yang terjebak di medan asing. Hanya saja kelemahan film ini, walaupun berdurasi tidak cukup panjang ada momen dimana penonton akan dibuat bosan di babak kedua menuju babak terakhir yang klimaks. Tapi, ending film ini berhasil membuat penonton tercengang.

Doug Liman adalah sutradara yang selalu menampilkan film-film aksi yang menegangkan. Contohnya ketika sineas ini menmbuat film adaptasi novel "The Bourne Identity" (2002) yang memasang Matt Damon sebagai pemeran utama. Menampilkan film aksi dan spionase yang menegangkan dan bermain dengan pikiran ketika menontonnya. Dan sukses menuai pujian positif dengan perolehan box office yang bagus. Lalu film aksi yang dibumbui sedikit komedi dan drama juga lewat "Mr. & Mrs. Smith" (2005) memasang Brad Pitt dan Angelina Jolie, walaupun kritikus kurang menyukainya, tetap saja film ini menjadi salah satu favorit pecinta film aksi. Lalu di 2014 dia menytradarai film "Live Die Reeat: Edge Of Tomorrow" yang diadaptasi dari light manga Jepang berjudul "All You Need Is Kill", memasang Tom Cruise dan Emily Blunt sebagai pemeran utama, menggabungkan aksi Hollywood bergaya Jepang yang luar biasa seru dengan 91% Certified Fresh dari situs Rotten Tomatoes. Tahun ini, Doug Liman kembali menyutradarai film aksi berlatar belakang perang tapi, mengganggu pikiran yang menjadi salah satu film yang tidak bisa dilewatkan berjudul "The Wall". Yang istimewanya, film ini hanya memasang dua pemain utama dan satu pemain pendukung saja. Pastinya tidak akan bisa dilewatkan begitu saja. Berlatar perang di Irak di tahun 2007, tentara Amerika bernama Shane Matthews (John Cena) yang ahli sebagai penembak jitu dikirim ke sebuah medan yang terasing dan ditemani oleh pengamatnya yang juga tentara, Allen Isaac (Aaron Taylor-Johnson). Selama 22 Jam lamanya mereka menunggu dan merasa aman, Shane memutuskan untuk memeriksa ke medan itu. Tiba-tiba, dia ditembak dan Allen harus menolongnya lalu tertembak di kakinya. Masalahnya, mereka harus mencari tahu siapa penembaknya yang tidak terdeteksi dari awal. Dan satu-satunya pelindung mereka hanyalah sabuah tembok kecil yang hampir runtuh. mereka harus mencari pertolongan sebelum terlambat. Okay, here's the review. Film berdurasi 81 menit ini ternyata cukup menagangkan. Dua tentara yang bertahan hidup ditembak oleh penembak misterius membuat kita akan bertanya-tanya siapa sebenarnya penembak itu. Selain menampilkan aksi baku tembak, film ini sukses membuat kita terganggu pikirannya kaarena terbawa suasana stress di dalam filmnya. That's a good point. Bahkan kita akan miris melihat adegan berdarah-darah yang efektif. john Cena dan Aaron Taylor-Johnson berhasil membawa peran mereka dengan baik, chemistry mereka berhasil sebagai dua tentara yang terjebak di medan asing. Hanya saja kelemahan film ini, walaupun berdurasi tidak cukup panjang ada momen dimana penonton akan dibuat bosan di babak kedua menuju babak terakhir yang klimaks. Tapi, ending film ini berhasil membuat penonton tercengang.

Overview

Story
Cast
Productions

Score

Salah satu war-psychological thriller yang tidak bisa kamu lewatkan begitu saja. Bisa menjadi salah satu pilihan menonton di akhir pekan. Menontonlah dengan pikiran yang tenang dulu.

User Rating: Be the first one !
82
Article Categories:
Review International

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *