Pendekar Tongkat Emas
(The Golden Cane Warrior)

Posted by Mokino on August 24, 2016

Keep your friends close but your enemies closer” – Sun Tzu, merupakan hal pertama yang muncul dibenak kami pada saat menonton film ini. Kisah klasik intrik dunia persilatan yang selalu muncul pada cerita-cerita silat dari komik Indonesia seperti

“Si Buta Dari Gua Hantu”, “ Pendekar Kayu Harum”, “Jaka Gledek” atau “Prahara Karang di Bukit Hantu”

Semua merupakan satu dari komik silat legendaris karya Kho Ping Hoo, Ganes TH, Djair dan Hengky. Dari keluarga yang hampir semuanya hobi membaca komik Mira Lesmana (Produser) ingin mengadaptasi kisah-kisah silat tersebut kelayar lebar.

Film Silat Indonesia

Pada tahun 1980-an beberapa komik silat pernah diangkat ke layar lebar dan hampir sebagian besar menuai sukses akan tetapi pada era tahun 1990-an komik dan film silat Indonesia pun hilang dari pasaran.

“Tenang, Jagoan selalu kalah duluan! Kita semua adalah jagoan dari hidup kita sendiri dan kita sudah tahu aturannya bahwa jagoan selalu membela kebenaran.” – Ifa Isfansyah (Sutradara).

Film ini berusaha untuk mengembalikan kenangan kita untuk membela kebenaran. Melihat dari kondisi bangsa kita yang sedang dalam kondisi yang memprihatinkan Ifa Isfansyah berusaha untuk memberikan “hiburan” kepada para penontonya untuk melihat permasalahan dari sesuatu yang lebih mendasar, semua perlu “diingatkan” kembali tentang kenangan masa kecil dimana semuanya belum terlalu rumit, bahwa hidup hakikatnya adalah membela kebenaran.

Bercerita tentang seorang pendekar wanita legendaris bernama Cempaka (Christine Hakim) yang sangat dihormati dalam dunia persilatan, seorang pendekar yang memegang sebuah senjata pusaka Tongkat Emas yang kekuatanya tidak dapat tertandingi. dikarenakan umur Cempaka yang sudah tidak muda lagi dia akan mewariskan senjata pusakanya kepada salah satu muridnya. Pembunuhan dan pengkhianatan terjadi sebelum dunia persilatan mengetahui siapa ahli waris Cempaka.

Namun Tongkat Emas jatuh ke tangan yang salah dan tidak dapat dihindari, kekacauan pun terjadi. Hanya satu orang yang bisa mengambil alih Tongkat Emas tersebut yakni Pendekar Naga Putih, seseorang dari masa lalu Cempaka yang telah lama hilang.

Siapakah yang akan menjadi pewaris sebenarnya Tongkat Emas tersebut? Secara keseluruhan dari segi produksi dan kualitas gambar sudah tidah diragukan lagi, Efek dramatis dihasilkan dari teknik pengambilan gambar yang menggunakan kamera Red Dragon dengan resolusi mencapai 6K (6000×4000) Native Dynamic Range 15+ stop mampu merekam 120 FPS (Frame Per Second) di 5K, dengan sensor yang lebih besar dari Mysterium-X sensasi menonton anda akan maksimal dengan suguhan gambar yang prima.

Untuk pertama kalinya film Indonesia menggunakan teknologi Red Dragon. Lokasi Sumba Timur sangat mendukung jalan cerita yang disuguhkan karena set terbesar dari film ini adalah kondisi natural dari Landscape Sumba Timur yang breathtakingly beautiful, kita akan dibuat “bengong” meliahat semua establish pemandangan abrasi dari perbukitan Tenau, savana Purukambera, pantai Cemara dan Mondu. kita akan dibuat bermimpi bisa pergi kesana.