banner

Kegelisahan yang Subtil – Review “Hereditary”

Written by
mm

Ketika kita membicarakan tentang film horor belakangan ini, yang terbesit di kepala kita adalah film-film yang kebanyakan menyuguhkan karakter hantu yang cenderung iconic, jump scare, VFX (visual effect) yang memukau dan yang pasti film-film barusan yang kita pikirkan memiliki potensi untuk dibuatkan franchise. Namun tidak bagi Hereditary, film yang berusaha tampil berbeda diantara film-film yang lain, dan sebuah film keluaran dari sebuah Production House (PH) yang bernama A24 yang tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Hollywood anti-mainstream.

Ceritanya sendiri bercerita tidak jauh dari nama film itu sendiri, yang berarti keturunan, dalam hal ini keluarga. Tetapi keluarga yang diceritakan dalam film ini bukan merupakan keluarga yang pada umumnya terlihat baik-baik diluar, melainkan sebuah keluarga yang disfungsional. Di awal film, mereka baru saja berduka karena berpulangnya sosok sang nenek dari keluarga Graham yang merupakan ibu dari Annie Graham, ibu dari keluarga Graham yang diperankan dengan sangat ciamik oleh aktris Toni Collette.

Alur dari film ini sendiri tergolong unik karena pada awal film, tidak berkesan seperti horror, cenderung terasa seperti drama/thriller, namun ada momen di tengah film di mana itu semua berubah seketika menjadi sebuah horor yang sesungguhnya walau tetap tanpa serangan jump scare yang berlebihan. Yang di mana di film ini mereka memainkan subliminal message pelan-pelan dan memainkan imajinasi kalian sendiri, ya mereka memainkan serangan terror yang sangat subtil secara perlahan sampai kalian terjebak di dalamnya.

Alih-alih berusaha mengagetkan anda terus-terusan di mana kalian seua akan segera lupa seketika ketika sudah keluar dari pintu bioskop, film ini secara baik memainkan elemen-elemen seperti ekspresi, dialog, permainan suara, penceritaan secara fisiologis yang akan membuat kalian semua akan merasa sangat tidak nyaman. Terlebih dari sisi penceritaan yang dikemas dengan sangat baik.

Kelebihan film ini jujur terletak pada dialognya yang dibuat secara matang dan terasa konsisten sepanjang film untuk melukiskan masing-masing karakter dengan berbagai back story, konflik, maupun karakter developmentnya. Tidak seperti beberapa film horor lain yang tidak terlalu mengakses dialog dalam film untuk bisa menjadi sarana untuk mekukiskan kengerian. Film ini mampu menggunakan dialog maupun momen tanpa dialog untuk bertutur secara tajam.

Yang menarik dari film ini juga adalah visual story telling dan cinematographynya. Di mana beberapa teknik sederhana dalam cinematography digunakan secara baik di film ini sampai hal hal yang bersifat simbolis akan menambah tingkat kegelisahan penonton. Dan juga film ini memakai teknologi visual effect dengan sangat cermat dan tepat guna di mana elemen-elemen yang cukup sederhana saja bisa mengantarkan anda pada praduga tersendiri pada seperti apa film ini menceritakan kejadian-kejadian yang ingin diceritakan

Dan film ini juga film horor yang berani mengambil jalur rating dewasa (R-Rated) di mana banyak elemen seperti kekerasan, kesadisan dan darah digunakan di dalam film ini.

Hal lain di mana ketika semua horor Block buster US lebih banyak memainkan unsur kultur Kristianisme film ini mengusung kultur yang berbeda yaitu Paganisme yang mana akan kalian temukan sendiri pada ¾ bagian akhir film.

Film yang nyaris sempurna ini bukan berarti tidak memiliki kekurangan sama sekali di unsur penceritaan di mana pada endingnya sendiri terasa seperti tidak klimaks. Endingnya sendiri bukanlah ending dengan gata cliffhanger atau ending menggantung yang membuat penonton semua penasaran atau ending yang benar benar penutup, melainkan sebuah ending yang teras sepertinya harus digali lebih lagi. Tetapi itu tidak menjadi kekurangan yang terasa mayor karena film ini mampu mempertahankan kelebihannya dan menjaganya dari awal sampai akhir film.

Hereditary tayang pertama kali di Sundance Film Festival dan sekarang sudah dapat ditonton di teater CGV dan Cinemaxx mulai 27 Juni 2018 kemarin.

Ketika kita membicarakan tentang film horor belakangan ini, yang terbesit di kepala kita adalah film-film yang kebanyakan menyuguhkan karakter hantu yang cenderung iconic, jump scare, VFX (visual effect) yang memukau dan yang pasti film-film barusan yang kita pikirkan memiliki potensi untuk dibuatkan franchise. Namun tidak bagi Hereditary, film yang berusaha tampil berbeda diantara film-film yang lain, dan sebuah film keluaran dari sebuah Production House (PH) yang bernama A24 yang tentu sudah tidak asing lagi bagi penggemar film Hollywood anti-mainstream. Ceritanya sendiri bercerita tidak jauh dari nama film itu sendiri, yang berarti keturunan, dalam hal ini keluarga. Tetapi keluarga yang diceritakan dalam film ini bukan merupakan keluarga yang pada umumnya terlihat baik-baik diluar, melainkan sebuah keluarga yang disfungsional. Di awal film, mereka baru saja berduka karena berpulangnya sosok sang nenek dari keluarga Graham yang merupakan ibu dari Annie Graham, ibu dari keluarga Graham yang diperankan dengan sangat ciamik oleh aktris Toni Collette. Alur dari film ini sendiri tergolong unik karena pada awal film, tidak berkesan seperti horror, cenderung terasa seperti drama/thriller, namun ada momen di tengah film di mana itu semua berubah seketika menjadi sebuah horor yang sesungguhnya walau tetap tanpa serangan jump scare yang berlebihan. Yang di mana di film ini mereka memainkan subliminal message pelan-pelan dan memainkan imajinasi kalian sendiri, ya mereka memainkan serangan terror yang sangat subtil secara perlahan sampai kalian terjebak di dalamnya. Alih-alih berusaha mengagetkan anda terus-terusan di mana kalian seua akan segera lupa seketika ketika sudah keluar dari pintu bioskop, film ini secara baik memainkan elemen-elemen seperti ekspresi, dialog, permainan suara, penceritaan secara fisiologis yang akan membuat kalian semua akan merasa sangat tidak nyaman. Terlebih dari sisi penceritaan yang dikemas dengan sangat baik. Kelebihan film ini jujur terletak pada dialognya yang dibuat secara matang dan terasa konsisten sepanjang film untuk melukiskan masing-masing karakter dengan berbagai back story, konflik, maupun karakter developmentnya. Tidak seperti beberapa film horor lain yang tidak terlalu mengakses dialog dalam film untuk bisa menjadi sarana untuk mekukiskan kengerian. Film ini mampu menggunakan dialog maupun momen tanpa dialog untuk bertutur secara tajam. Yang menarik dari film ini juga adalah visual story telling dan cinematographynya. Di mana beberapa teknik sederhana dalam cinematography digunakan secara baik di film ini sampai hal hal yang bersifat simbolis akan menambah tingkat kegelisahan penonton. Dan juga film ini memakai teknologi visual effect dengan sangat cermat dan tepat guna di mana elemen-elemen yang cukup sederhana saja bisa mengantarkan anda pada praduga tersendiri pada seperti apa film ini menceritakan kejadian-kejadian yang ingin diceritakan Dan film ini juga film horor yang berani mengambil jalur rating dewasa (R-Rated) di mana banyak elemen seperti kekerasan, kesadisan dan darah digunakan di dalam film ini. Hal lain di mana ketika semua horor Block buster US lebih banyak memainkan unsur kultur Kristianisme film ini mengusung kultur yang berbeda yaitu Paganisme yang mana akan kalian temukan sendiri pada ¾ bagian akhir film. Film yang nyaris sempurna ini bukan berarti tidak memiliki kekurangan sama sekali di unsur penceritaan di mana pada endingnya sendiri terasa seperti tidak klimaks. Endingnya sendiri…
Story
Cast
Production

Sebuah Pengalaman Menonton Horror yang Baru

Film yang nyaris sempurna ini bukan berarti tidak memiliki kekurangan sama sekali di unsur penceritaan di mana pada endingnya sendiri terasa seperti tidak klimaks. Endingnya sendiri bukanlah ending dengan gata cliffhanger atau ending menggantung yang membuat penonton semua penasaran atau ending yang benar benar penutup, melainkan sebuah ending yang teras sepertinya harus digali lebih lagi. Tetapi itu tidak menjadi kekurangan yang terasa mayor karena film ini mampu mempertahankan kelebihannya dan menjaganya dari awal sampai akhir film.

User Rating: Be the first one !
85
Article Tags:
· · · · · ·
Article Categories:
Features · Review · Review International

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *